Mengikhlaskan sesuatu itu butuh
waktu, tidak bisa instan. Apalagi untuk melepaskan seseorang yang begitu kamu
sayang. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Hanya saja, sesuatu yang
memaksakan diri untuk lepas, sekeras apapun kamu mempertahankan tetap saja akan
lepas.
Pelan pelan saja, untuk melepaskan
sesuatu yang teramat kamu cintai, tidak bisa dengan waktu seketika. Nikmatilah
prosesnya. Jika harus cengeng, tidak apa-apa. Karena setiap orang patah hati
punya hak untuk cengeng. Nanti, waktu akan menjawab segalanya.
Tidak perlu malu apalagi takut untuk
menangis, tak peduli kamu laki laki ataupun perempuan. Menangis saat hatimu
sedih, saat kenyataan terasa pedih adalah hal yang wajar. Manusiawi. Dan kamu
sadar kamu masih manusia. Percayalah, sekuat apapun seseorang kalau hatinya
dipatahkan pasti merasakan rasa sedih, rasa kecewa semua bercampur aduk seakan
dunia tidak begitu adil terhadapnya. Apalagi jika kenyataannya yang membuat
patah hati adalah seseorang yang tak pernah kamu duga akan melakukan semua itu,
“seseorang yang begitu kamu cintai”, Perih sekali bukan. yaaaahhh sudahlaaaah
sakitnya itu tidak bisa lagi dipaparkan dengan kata kata.
Nikmati saja proses lukanya pelan
namun pasti semuanya akan kembali membaik. Memang tidak ada yang tahu berapa
lama butuh waktu untuk menyembuhkan luka tergantung kamunya yang menjalani,
hanya saja satu yang pasti “nanti akan ada seseorang yang kembali mengisi ruang
di hatimu untuk jatuh cinta bisa saja orang yang sama, yang kembali dating
dengan penyesalan dan memilih mencintaimu selamanya atau barangkali seseorang
yang baru tapi tidak ada jaminannya orang yang baru tersebut adalah orang yang lebih baik namun semoga saja
yang dating adalah sesorang yang tepat, yang tak akan membiarkan hatimu
melarat.
Kembali lagi Berdamailah dengan
dirimu. Terima lagi dirimu yang dulu bahagia tanpa dia. Biarlah semua yang ada
tersimpan sebagai kenangan saja. Ayolah bangkit lagi! Peduli lagi dengan semua
semua cita cita yang sempat terhenti. Jangan biarkan luka membuat semua yang
pernah kamu rencanakan jadi sia sia. Kini, kamu harus mengatur langkah lagi.
Meneruskan impianmu sendiri.
Cintai lagi dirimu, seperti kamu
pernah mencintainya. Jika dia saja bisa kamu cintai sedalam itu, kenapa kamu
mengabaikan dirimu sendiri, jika dia pernah dengan sungguh kamu perjuangkan
kenapa dirimu sendiri tak bisa kamu perjuangkan. Bukankah dirimu jauh lebih
penting dari kesakitan yang dia tinggalkan, bukankah dirimu jauh lebih berharga
daripada segala luka yang pernah dia torehkan. Ingat lagi siapa kamu, bagaimana
kamu memperjuangkan hal hal yang dulu menjadi semangatmu.
Jika rasanya itu terlalu berat
lakukan dengan pelan pelan. Biarlah waktu yang memudarkan dia dalam ingatan.
Kamu hanya perlu mendamaikan dirimu sendiri, menenagkan segala hal yang mungkin
saja masih sering dating menghantui. Terima saja, jika kamu sulit melupakannya,
semua memang butuh waktu untuk pulih, “seperti halnya orang yang lagi sakit
butuh usaha untuk sembuh tidak ada obat yang berikan efek instan seketika
lansung sembuh. Bertahap”.
Saat dia mulai melangkahkan kaki, artinya cinta yang dia miliki tidak lebih besar dari pada keinginanya bersamamu sampai nanti. Itulah mengapa kamu pun harus sadar diri. Kamu bukan hal yang benar benar penting baginya, lalu masih adakah alasanmu untuk tetap bertahan menunggu dia? Atau mungkin semua itu terjadi karna ada unsur dari kesalahanmu sendiri, “coba ingat kembali” kalau memang itu adanya minta maaflah se tulus mungkin. Kalau tidak, sampai kapankah kamu akan membiarkan dirimu terus saja dibuat luka?